Minggu, 05 Oktober 2014

RPP KURIKULUM 2013 Bangga sebagai Bangsa Indonesia / 2.Indonesiaku, Bangsa yang Berbudaya



RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan      : SD
Kelas/ Semester           : V/ 1(Satu)
Tema/ Subtema           : 5. Bangga sebagai Bangsa Indonesia /  2.Indonesiaku, Bangsa yang
  Berbudaya
Pembelajaran               : 1  (Enam)
Alokasi Waktu            : 1 x Pertemuan (5 x 35 Menit)

A.  Kompetensi Inti (KI)
1.    Menerima, menjalankan, dan menghargai ajaran agama yang dianutnya.
2.    Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan tetangganya.
3.    Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah, di sekolah, dan tempat bermain.
4.    Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas, sistematis dan logis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia

B.  Kompetensi Dasar dan Indikato
Bahasa Indonesia
Kompetensi Dasar:
3.3     Menguraikan isi teks paparan iklan tentang ekspor impor sebagai kegiatan ekonomi antarbangsa dengan bantuan guru dan teman dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis dengan memilih dan memilah kosakata baku
• Menjelaskan bentuk-bentuk kegiatan ekspor import barang-barang antara Indonesia dan luar negeri.

4.3 Menyajikan teks paparan iklan tentang ekspor impor sebagai kegiatan ekonomi antarbangsa secara mandiri dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis dengan memilih dan memilah kosakata baku
• Membuat contoh iklan barang yang diekspor oleh Indonesia

Matematika
Kompetesi Dasar
3.1     Mengenal konsep perpangkatan dan penarikan akar bilangan pangkat dua dan bilangan pangkat tiga sederhana
• Melakukan penarikan akar pangkat dua dari bilangan kuadrat

4.2 Menentukan bilangan yang tidak diketahui dalam persamaan yang melibatkan penambahan, pengurangan, perkalian, atau pembagian bilangan satu atau dua angka
• Menyelesaikan permasalahan matematika yang melibatkan pembagian



C.      Tujuan Pembelajaran
Fokus pembelajaran:
Bahasa Indonesia, Matematika
Tujuan pembelajaran:
·         Dengan menggali informasi dari bacaan, siswa mampu menjelaskan bentuk-bentuk kegiatan ekspor impor barang antara Indonesia dan luar negri dengan teliti
·         Dengan menjawab pertanyaan dari bacaan, siswa mampu menjelaskan bentuk-bentuk kegiatan ekspor dan impor barang antar Indonesia dan luar negri dengan cermat
·         Dengan membuat iklan produk, siswa mampu membuat contoh iklan barang yang diekspor Indonesia dengan mandiri
·         Dengan mengerjakan latihan menggunakan cerita-cerita kontekstual, siswa mampu melakukan penarikan akar pangkat dua dari bilangan kuadrat dengan percaya diri
·         Dengan mengerjakan latihan menggunakan cerita-cerita kontekstual, siswa menyelesaikan permasalahan matematika yang melibatkan pembagian dengan teliti

D.      Materi Pembelajaran
Bahasa Indonesia             :
Matematika                      :                                   :      

E.  Metode dan Pendekatan Pembelajaran
Metode         : Ceramah, tanya jawab, dan diskusi.
Pendekatan   : Saintifik (mengamati, menanya, mengumpulkan informasi,
eksperimen, mengasosiasi/mengolah infomrasi, dan mengkomunikasikan).

F.   Media, Alat, dan Sumber Belajar
1.      Media/Alat Bantu
Buku, Teks bacaan tentang kegiatan ekspor dan impor, teks bacaan tentang bentuk-bentuk iklan.

2.    Sumber Belajar
Pusat Perbukuan Balitbang dan Kemdikbud 2014. Buku Siswa SD Kelas 5 Tema 5:           Bangga Sebagai Bangsa Indonesia, Jakarta: Kemetrian Pendidikan dan Kebudayaan.  Pusat Perbukuan Balitbang dan Kemdikbud 2014. Buku Guru SD Kelas 5 Tema Tem 5: Bangga Sebagai Bangsa Indonesia. Jakarta: Kemetrian Pendidikan dan  kebudayaan.

G.      Langkah-langkah Pembelajaran
Kegiatan
Deskripsi Kegiatan
Alokasi Waktu
Kegiatan Pembuka
·         Guru memberi salam
·         Berdoa besama
·         Guru mencek kehadiran siswa
·         Guru mengadakan appersepsi
·         Siswa membaca teks bacaan pembuka yang berjudul “Papan Reklame Toko Mebel”. Bacaan ini merupakan bacaan yang dipakai untuk membuka pembelajaran yang nantinya akan menghubungkan reklame dengan kegiatan prmbelajaran berikutnya.
·         Siswa mengaitkan isi bacaan dengan pengalaman sehari-hari tentang reklame. Guru menstimulus diskusi dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan pancingan seperti : Apa yang kamu perhatikan pertama kali ketika kamu melihat papan reklame?
·         Siswa menuliskan jawaban mereka pada kolom yang disediakan, kegiatan ini bisa dikerjakan secara individual atau berpasangan dengan teman sebangku (disesuaikan dengan kondisi kelas)
·          
10 Menit
Kegiatan Inti
Langkah-langkah Kegiatan
MENGAMATI
·         Siswa menggali informasi dari teks bacaan dan mencari informasi tentang bentuk-bentuk kegiatan ekspor impor barang antara Indonesia dan luar negri dengan teliti
·         Guru memberikan beberapa pertanyaan sebagai acuan kegiatan menggali informasi, seperti “Apa yang dimaksud dengan kegiatan ekpor impor? Mengapa kegiatan ekspor impor penting?
Kegiatan ini dilanjutkan dengan kegiatan pengamatan gambar, siswa mengamati gambar dengan cermat, dan menuliskan apa yang ada di benak mereka pada kolom yang disediakan.

MENANYA
·         Siswa mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan teks bacaan tentang kegiatan ekspor dan import
·         Siswa bertanya jawab dengan memperhatikan informasi-informasi penting yang mereka dapatkan dari teks bacaan secara cermat dan teliti.
·         Siswa menjawab soal-soal yang disediakan dalam buku siswa, untuk mengukur pemahaman siswa terhadap informasi yang dimuat dalam bacaan.

MENGUMPULKAN INFORMASI
·         Siswa mencermati teks percakapan yang disajikan pada buku siswa dan mencari dari berbagai sumber tentang ekspor dan impor
·         Siswa mengumpulkan berbagai informasi tentang berbagai iklan sebuah produk.

MENGASOSIASI
·         Siswa membentuk kelompok yang terdiri dari lima anggota
·         Siswa bersama dengan kelompoknya mencermati instruksi untuk membuat iklan produk dengan menggunakan poster.
·         Siswa mengikuti langkah-langkah:
Bentuklah kelompok terdiri atas lima anggota. Bersama kelompokmu, buatlah iklan produk dengan menggunakan poster. Tentukanlah barang apa yang akan dijual. Pelajarilah kelebihan barang tersebut dibanding barang yang sejenis yang berasal dari tempat berbeda. Rancanglah gambar apa saja yang akan ditampilkan pada poster. Perhatikanlah cara membuat kalimat dalam sebuah iklan. Tuangkanlah semua gagasan kalian di atas kertas ukuran A3 atau seukuran kertas poster. Semua anggota kelompok dipersilakan mengeluarkan pendapat mengenai iklan yang akan dibuat. Semakin banyak ide, semakin baik. Jika telah selesai, presentasikanlah iklan produk dalam bentuk poster di depan kelas. Mintalah masukan dari kelompok lain. Tempelkanlah poster iklanmu di dinding kelas.
  • Peserta didik menyimpulkan poster terbaik yang akan ditayangkan didinding kelas.

MENGOMUNIKASIKAN
  • Siswa membaca teks bacaan di buku siswa secara mandiri.
  • Siswa menyajikan informasi-informasi penting yang mereka dapatkan dari teks bacaan secara cermat dan teliti.
  • Siswa menerapkan cara menyelesaikan soal akar pangkat dua
  • Siswa menyajikan penyelesaian soal dengan teliti dan benar
  • Guru dapat berkeliling kelas untuk membimbing siswa dalam menyelesaikan soal dan memberikan penjelasan lebih lanjut kepada siswa yang memerlukan pemahaman lebih tentang akar pangkat dua atau kuadrat


155Menit
Penutup
·         Siswa mengingat kembali pemahamannya tentang pelajaran yang telah disampaikan
·         Siswa mengolah informasi yang disajikan dalam soal dan menggunakan pemahamannya tentang konsep bilangan berpangkat untuk memecahkan soal
Hasil yang diharapkan:
·         Pengetahuan siswa tentang konsep bilangan berpangkat
·         Ketrampilan siswa dalam memecahkan masalah yang berkaitan dengan bilangan berpangkat
·         Sikap ketelitian dan kecermatan siswa dalam mengerjakan tugas.
10 Menit

H.      Penilaian
1.         Teknik Penilaian
a.         Penilaian Sikap:
-      Kecermatan dan ketelitian dalam kegiatan menggali informasi dalam teks dan mengamati gambar.
-      Kemandirian dan kecermatan dalam membuat peta pikiran dan membuat laporan.
-      Percaya diri dalam melakukan kegiatan wawancara.
b.        Penilaian Pengetahuan :
-      Tes Harian
-      Penugasan
c.         Penilaian Keterampilan :
-      Penugasan

2.    Bentuk Instrumen Penilaian
    1. Rubrik Tugas menjawab pertanyaan bacaan (essay)               Hal. 84 BG
    2. Rubrik tugas membuat iklan dalam bentuk poster                  Hal. 85 BG
    3. Rubrik Tugas Menulis Syair                                                    Hal. 41 BG
    4. Rubrik presentasi poster kelompok                                         Hal 86 BG





















do'a untuk kaka


DO'A UNTUK KAKA

dulu kau bagai dewa
pelindung & penolong
kini aku merana
kau penyebabnya

mengapa begini
kau hancurkan reputasimu
di depan ku
kau menyakiti
adikmu sendiri

kau kusayangi
tapi ku dihianati
aku peduli padamu
tapi kau manfaatkanku

ya Allah tolong dia
kembalikan dia seperti sedia kala

Sabtu, 06 September 2014

tujuan umum dalam pelaksanaan mbs , proses pelaksanaan mbs, prinsip manajemen berbasis sekolah keterbukaan akuntabilitas kemandirian



1"final PPKHB Angkatan III Amuntai" selamat menjawab.............
    Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah memiliki tujuan sebagai berikut:
a.       Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia;
b.      Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan melalui pengambilan keputusan bersama;
c.       Meningkatkan tanggung jawab sekolah kepada orang tua, sekolah dan pemerintah tentang mutu sekolah;
d.      Meningkatkan kompetisi yang sehat antar sekolah untuk pencapaian mutu pendidikan yang diharapkan.

2.      proses penerapan MBS dapat ditempuh antara lain dengan langkah-langkah sbb :
a.    Memberdayakan komite sekolah/majelis madrasah dalam peningkatan mutu pembelajaran di sekolah
b.   Unsur pemerintah Kab/Kota dalam hal ini instansi yang terkait antara lain Dinas Pendidikan, Badan Perencanaan Kab/Kota, Departemen Agama (yang menangani pendidikan MI, MTs dan MA), Dewan Pendidikan Kab/Kota terutama membantu dalam mengkoordinasikan dan membuat jaringan kerja (akses) ke dalam siklus kegiatan pemerintahan dan pembangunan pada umumnya dalam bidang pendidikan.
c.    Memberdayakan tenaga kependidikan, baik tenaga pengajar (guru), kepala sekolah, petugas bimbingan dan penyuluhan (BP) maupun staf kantor, pejabat-pejabat di tingkat kecamatan, unsur komite sekolah tentang Manajemen Berbasis Sekolah, pembelajaran yang bermutu dan peran serta masyarakat.
d.   Mengadakan pelatihan dan pendampingan sistematis bagi para kepala sekolah, guru, unsur komite sekolah pada pelaksanaan peningkatan mutu pembelajaran
e.    Melakukan supervisi dan monitoring yang sistematis dan konsisten terhadap pelaksanaan kegiatan pembelajaran di sekolah agar diketahui berbagai kendala dan masalah yang dihadapi, serta segera dapat diberikan solusi/pemecahan masalah yang diperlukan.
f.     Mengelola kegiatan yang bersifat bantuan langsung bagi setiap sekolah untuk peningkatan mutu pembelajaran, Rehabilitasi/Pembangunan sarana dan prasarana Pendidikan, dengan membentuk Tim yang sifatnya khusus untuk menangani dan sekaligus melakukan dukungan dan pengawasan terhadap Tim bentukan sebagai pelaksana kegiatan tersebut.

3.      Prinsip-prinsip MBS
a.       Adanya transparansi yaitu memiliki makna bahwa prinsip MBS harus berpijak pada transparansi atau ke terbukaan dalam pengelolaan sekolah, termasuk di dalamnya masalah fisik dan non fisik.
b.      Akuntabili¬tas (tanggungjawab) memberi makna bahwa sekolah beserta Dewan Sekolah merupakan institusi terdepan yang paling bertanggungjawab dalam pengelolaan sekolah.
c.       Kemandirian yaitu kemandirian dalam mengatur dan mengurus dirinya sendiri (pengelolaan mandiri). Dalam hal prinsip pengelolaan mandiri dibedakan dari pandangan yang menganggap sekolah hanya sebagai satuan organisasi pelaksana yang hanya melaksanakan segala sesuatu berdasarkan pengarahan, petunjuk, dan instruksi dari atas atau dari luar.
4.      Agar MBS dapat terlaksana dengan baik diperlukan beberapa persyaratan, yaitu:
a.       Kepemimpinan dan manajemen sekolah yang baik
MBS aan berhasi jika ditopang oleh kemampuan professional kepala sekolah atau madrasah dalam memimpin dan mengelola sekolah atau madrasah secara efektif dan efisien, serta mampu menciptakan iklim organisasi yang kondusif untuk proses belajar mengajar
b.      Kondisi social, ekonomi dan apresiasi masyarakat terhadap pendidikan
Faktor eksternala yang akan turut menentukan keberhasilan MBS adalah kondisi tingkat pendidikan orangtua siswa dan masyarakat, kemampuan dalam membiayai pendidikan, serta tingkat apresiasi dalam mendorong anak untuk terus belajar.

c.       Dukungan pemerintah
Faktor ini sangat membantu efektifitas implementasi MBS terutama bagi sekolah atau madrasah yang kemampuan orangtua/ masyarakatnya relative belum siap memberikan kontribusi terhadap penyelenggaraan pendidikan. alokasi dana pemerintah dan pemberian kewenangan dalam pengelolaan sekolah atau madrasah menjadi penentu keberhasilan.
d.      Profesionalisme
Faktor ini sangat strategis dalam upaya menentukan mutu dan kinerja sekolah atau madrasah. Tanpa profesionalisme kepala sekolah atau madrasah, guru, dan pengawas, akan sulit dicapai program MBS yang bermutu tinggi serta prestasi siswa.
5.      Penanda suatu sekolah telah melaksanakan MBS
a.       Efektif Proses Pembelajaran
Sekolah yang menerapkan MBS memiliki efektivitas proses proses pembelajaran yang tingi. Ini ditunjukkan oleh sifat pembelajaran yang menekankan pada pemberdayan peserta didik
b.      Out Put adalah Prestasi Sekolah
Prestasi yang dihasilkan oleh proses pembelajaran dan manajemen di sekolah dapat memberi makna pada upaya peningkatanprestasi sekolah, baik prestasi akademik maupun non akademik
c.       Sekolah Memiliki Akuntabilitas
Akuntabilitas adalah bentuk pertanggungjawaban yang harus dilakukan sekolah terhadap keberhasilan program yang telah dilaksanakan. Akuntabilitas ini berbentuk laporan prestasi yang dicapai baik kepada Pemerintah maupun kepada orang tua peserta didik dan masyarakat
d.      Sekolah Memiliki Ttransparansi
Keterbukaan/transparansi dalam pengelolaan sekolah merupakan karakteristik sekolah yang menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah. Keterbukaan/transparansi ini ditunjukan dalam pengambilan keputusan, penggunaan uang, dan sebagainya, yang selalu melibatkan pihak-pihak terkait sebagai alat kontrol
e.       Partisipasi Warga Sekolah dan Masyarakat
Sekolah yang menerapkan Manajemen berbasis Sekolah memiliki karakteristik partisipasi sekolah dan masyarakat yang tinggi. Hal ini di landasi keyakinan bahwa makin tinggi tingkat partisipasi, makin besar pula rasa tanggung jawab; dan makin besar rasa tanggung jawab makin besar pula tingkat didikasinya
f.        . Sekolah Memilik Kemandirian
Sekolah memiliki kewengan untuk melakukan yang terbaik bagi sekolahnya, sehingga dituntut untuk memiliki kemampuan dan kesanggupan kerja yang tidak selalu menggantungkan pada atasan. Untuk menjadi mandiri, sekolah harus memiliki sumber daya yang cukup untuk menjalankan tugasnya






tujuan dan prinsip hubungan masyarakat

HUBUNGAN SEKOLAH DAN MASYARAKAT

BAB I
PENDAHULUAN

Dilihat dari konsep pendidikan, masyarakat adalah sekumpulan orang dengan berbagai ragam kualitas diri yang tidak berpendidikan sampai dengan  yang berpendidikan. Sementara itu, dilihat dari lingkungan pendidikan, masyarakat disebut lingkungan nonformal yang memberikan pendidikan secara sengaja dan berencana kepada seluruh anggotanya, tetapi tidak sistematis.
Mohammad Noor Syam, dalam bukunya Filsafat Pendidikan dan Dasar Filsafat Pendidikan Pancasila, mengemukakan bahwa hubungan masyarakat dengan pendidikan sangat bersifat korelatif, bahkan seperti  telur  dengan ayam. Masyarakat maju karena pendidikan dan pendidikan yang maju hanya akan ditemukan dalam masyarakat yang maju. Sekolah juga berfungsi sebagai lembaga sosial yang melayani anggota-anggota masyarakat dalam bidang pendidikan.
Berdasarkan uraian diatas, maka makalah ini bertujuan untuk menjelaskan kepada para pembaca mengenai manajemen hubungan sekolah dan masyarakat.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Manajemen Hubungan Sekolah dan Masyarakat
1. Pengertian
Hubungan antara sekolah dan masyarakat pada hakekatnya adalah suatu sarana yang cukup mempunyai peranan yang menentukan dalam rangka usaha mengadakan pembinaan pertumbuhan dan pengembangan murid-murid di sekolah. Secara umum orang dapat mengatakan apabila terjadi kontak, pertemuan dan lain-lain antara sekolah dengan orang di luar sekolah, adalah kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat. Arthur B. Mochlan menyatakan school public relation adalah kegiatan yang dilakukan sekolah atau sekolah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Ada suatu kebutuhan yang sama antara keduanya, baik dilihat dari segi edukatif, maupun dilihat dari segi psikologi. Hubungan antar sekolah dan masyarakat lebih dibutuhkan dan lebih terasa fungsinya, karena adanya kecenderungan perubahan dalam pendidikan yang menekankan perkembangan pribadi dan sosial anak melalui pengalaman-pengalaman anak dibawah bimbingan guru, baik diluar maupun di dalam sekolah.
Ada tiga faktor yang menyebabkan sekolah harus berhubungan dengan masyarakat :
a.       Faktor perubahan sifat, tujuan dan metode mengajar di sekolah.
b.      Faktor masyarakat, yang menuntut adanya perubahan-perubahan dalam pendidikan di sekolah dan perlunya bantuan masyarakat terhadap sekolah.
c.       Faktor perkembangan ide demokrasi bagi masyarakat terhadap pendidikan.
Pengertian di atas memberikan isyarat kepada kita bahwa hubungan sekolah dengan masyarakat lebih banyak menekankan pada pemenuhan akan kebutuhan masyarakat yang terkait dengan sekolah. Di sisi lain pengertian
tersebut di atas menggambarkan bahwa pelaksanaan hubungan masyarakat tidak menunggu adanya permintaan masyarakat, tetapi sekolah berusaha secara aktif serta mengambil inisiatif untuk melakukan berbagai aktivitas agar tercipta hubungan dan kerjasama harmonis.
2. Tujuan Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
Elsbree menggariskan tujuan tentang hubungan antara sekolah dan masyarakat adalah sebagai berikut:
a.       Untuk memajukan kualitas belajar dan pertumbuhan anak.
b.      Untuk memperkokoh tujuan dan memajukan kualitas penghidupan masyarakat.
c.       Untuk mendorong masyarakat dalam membantu progam bantuan sekolah dan masyarakat di sekolah.
Di dalam masyarakat ada sumberdaya manusia dan sumber daya non manusia. Dari kedua sumber daya itu, sekolah dapat memilih dan memanfaatkan untuk program pendidikan sekolah. Jika sekolah itu berhasil memanfaatkan secara maksimal, maka hasil belajar anak akan lebih baik. Dengan demikian potensi anak akan bertumbuh dan berkembang secara maksimal. Pengaruh yang lebih jauh dari perkembangan anak tersebut adalah tujuan pendidikan sekolah akan tercapai dengan meyakinkan. Hal ini berarti bahwa tamatan (output) sekolah secara langsung akan ikut serta dalam memajukan penghidupan dan kehidupan masyarakat.
Karena itu hubungan timbal balik antara sekolah dengan masyarakat perlu dipelihara dan dikembangkan secara terus menerus.
3. Prinsip-Prinsip Pelaksanaan Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
Apabila kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat ingin berhasil mencapai sasaran, baik dalam arti sasaran masyarakat atau orang tua yang dapat diajak kerjasama maupun sasaran hasil yang diinginkan, maka beberapa prinsip-prinsip pelaksanaan di bawah ini harus menjadi pertimbangan dan perhatian. Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan dalam pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat adalah sebagai berikut:
3.1. Integrity
Prinsip ini mengandung makna bahwa semua kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat harus terpadu, dalam arti apa yang dijelaskan, disampaikan dan disuguhkan kepada masyarakat harus informasi yang terpadu antara informasi kegiatan akademik maupun informasi kegiatan yang bersifat non akademik.
Biasanya sering terjadi sekolah tidak menginformasikan atau menutupi sesuatu yang sebenarnya menjadi masalah sekolah dan perlu bantuan atau dukungan orang tua murid. Oleh sebab itu sekolah harus sedini mungkin mengantisipasi kemungkinan adanya salah persepsi, salah interpretasi tentang informasi yang disajikan dengan melengkapi informasi yang akurat dan data yang lengkap, sehingga dapat diterima secara rasional oleh masyarakat. Hal ini sangat penting untuk meningkatkan penilaian dan kepercayaan masyarakat atau orang tua murid terhadap sekolah, atau dengan kata lain transparansi sekolah sangat diperlukan, lebih-lebih dalam era reformasi dan abad informasi ini, masyarakat akan semakin kritis dan berani memberikan penilaian secara langsung tentang sekolah.
3.2. Continuity
Prinsip ini berarti bahwa pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat, harus dilakukan secara terus menerus. Jadi pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat tidak hanya dilakukan secara insedental atau sewaktu-waktu, misalnya satu kali dalam satu tahun atau sekali dalam satu semester, hanya dilakukan oleh sekolah pada saat akan meminta bantuan keuangan kepada orang tua atau masyarakat. Hal inilah yang menyebabkan masyarakat selalu beranggapan apabila ada panggilan sekolah untuk datang ke sekolah selalu dikaitkan dengan uang. Akibatnya mereka cenderung untuk tidak menghadiri atau sekedar mewakilkan kepada orang lain untuk menghadiri undangan sekolah. Apabila ini terkondisi, maka sekolah akan sulit mendapat dukungan yang kuat dari semua orang tua murid dan masyarakat.
Perkembangan informasi, perkembangan kemajuan sekolah, permasalahan-permasalahan sekolah bahkan permasalahan belajar siswa selalu muncul dan berkembang setiap saat, karena itu maka diperlukan penjelasan informasi yang terus menerus dari sekolah untuk masyarakat atau orang tua murid, sehingga mereka sadar akan pentingnya keikutsertaan mereka dalam meningkatkan mutu pendidikan putra-putrinya.
3.3. Simplicity
Prinsip ini menghendaki agar dalam proses hubungan sekolah dengan masyarakat yang dilakukan baik komunikasi personal maupun komunikasi kelompok  pihak pemberi informasi (sekolah) dapat menyederhanakan berbagai informasi yang disajikan kepada masyarakat. Informasi yang disajikan kepada masyarakat melalui pertemuan langsung maupun  melalui media hendaknya disajikan dalam bentuk sederhana sesuai dengan kondisi dan karakteristik pendengar (masyarakat setempat).
Prinsip kesederhanaan ini juga mengandung makna bahwa: informasi yang disajikan dinyatakan dengan kata-kata yang penuh persahabatan dan mudah dimengerti. Banyak masyarakat yang tidak memahami istilah-istilah
yang sangat ilmiah, oleh sebab itu penggunaan istilah sedapat mungkin disesuaikan dengan tingkat pemahaman masyarakat.
3.4. Coverage
Kegiatan pemberian informasi hendaknya menyeluruh dan mencakup semua aspek, faktor atau substansi yang perlu disampaikan dan diketahui oleh masyarakat, misalnya program ekstra kurikuler, kegiatan kurikuler, remedial teaching dan lain-lain kegiatan. Prinsip ini juga mengandung makna bahwa segala informasi hendaknya:
a.       Lengkap, artinya tidak satu informasipun yang harus ditutupi atau disimpan,  padahal masyarakat atau orang tua murid mempunyai hak untuk mengetahui keberadaan dan kemajuan sekolah dimana anaknya belajar. Oleh sebab itu informasi kemajuan sekolah, masalah yang dihadapi sekolah serta prestasi yang dapat dicapai sekolah harus dinformasikan kepada masyarakat.
b.      Akurat, artinya informasi yang diberikan memang tepat dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat, dalam kaitannya ini juga berarti bahwa informasi yang diberikan jangan dibuat-buat atau informasi yang obyektif.
c.        Up to date, berarti informasi yang diberikan adalah informasi perkembangan, kemajuan, masalah dan prestasi sekolah terakhir.
Dengan demikian masyarakat dapat memberikan penilaian sejauh mana sekolah dapat mencapai misi dan visi yang disusunnya.

3.5. Constructiveness
Program hubungan sekolah dengan masyarakat hendaknya konstruktif  dalam arti sekolah memberikan informasi yang konstruktif  kepada masyarakat. Dengan demikian masyarakat akan memberikan respon hal-hal positif tentang sekolah  serta mengerti dan memahami secara detail berbagai masalah yang dihadapi sekolah. Apabila hal tersebut dapat mereka mengerti, akan merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong mereka untuk memberikan bantuan kepada sekolah sesuai dengan permasalahan sekolah yang perlu mendapat perhatian dan pemecahan bersama. Hal ini menuntut sekolah untuk membuat daftar masalah yang perlu dikomunikasikan secara terus menerus kepada sasaran masyarakat tertentu.
Prinsip ini juga berarti dalam penyajian informasi hendaknya obyektif tanpa emosi dan rekayasa tertentu, termasuk dalam hal ini memberitahukan kelemahan-kelemahan sekolah dalam memacu peningkatan mutu pendidikan di sekolah.
Penjelasan yang konstruktif  akan menarik bagi masyarakat dan akan diterima oleh masyarakat tanpa prasangka tertentu, hal ini akan mengarahkan mereka untuk berbuat sesuatu sesuai dengan keinginan sekolah. Untuk itu informasi yang ramah, obyektif  berdasarkan data-data yang ada pada sekolah.

3.6. Adaptability
Program hubungan sekolah dengan masyarakat hendaknya disesuaikan dengan keadaan di dalam lingkungan masyarakat tersebut. Penyesuaian dalam hal ini termasuk penyesuaian terhadap aktivitas, kebiasaan, budaya (culture) dan bahan informasi yang ada dan berlaku di dalam kehidupan masyarakat. Bahkan pelaksanaan kegiatan hubungan dengan masyarakat pun harus disesuaikan dengan kondisi masyarakat. Misalnya saja masyarakat daerah pertanian yang setiap pagi bekerja di sawah, tidak mungkin sekolah mengadakan kunjungan (home visit) pada pagi hari.
Pengertian-pengertian yang benar dan valid tentang opini serta faktor-faktor yang mendukung akan dapat menumbuhkan kemauan bagi masyarakat untuk berpartisipasi ke dalam pemecahan persoalan-persoalan yang dihadapi sekolah.
4. Peranan Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
  1. Sekolah sebagai partner masyarakat di dalam melaksanakan fungsi pendidikan. Dalam konteks ini, berarti keduanya, yaitu sekolah dan masyarakat dilihat sebagai pusat-pusat pendidikan yang potensial dan mempunyai hubungan yang fungsional.
  2. Sekolah sebagai prosedur yang melayani kesan pesan pendidikan dari masyarakat lingkungannya. Berdasarkan hal ini, berarti antara masyarakat dengan sekolah memiliki ikatan hubungan rasional berdasarkan kepentingan di kedua belah pihak.
  3. Masyarakat  berperan serta dalam mendirikan dan membiayai sekolah.
  4. Masyarakat berperan dalam mengawasi pendidikan agar sekolah tetap membantu dan mendukung cita-cita dan kebutuhan masyarakat.
  5. Masyarakat yang ikut menyediakan tempat pendidikan seperti gedung-gedung museum, perpustakaan, panggung-panggung kesenian, dan sebagainya.
  6. Masyarakat yang menyediakan berbagai sumber untuk sekolah.
  7. Masyarakat sebagai sumber pelajaran atau laboratorium tempat belajar seperti aspek alami, industri, perumahan, transportasi, perkebunan, pertambangan dan sebagainya.